Kami yang dilenyapkan,
Padahal kami hanyalah seniman jalanan yang mengais keadilan
Padahal kami hanyalah anak Manusia yang menuntut hak kami
Kami yang dilenyapkan,
Bagai anak tiri di pelukan ibu pertiwi
Menangispun tak sanggup buat tangan besi berhenti menghantam
Kami yang dilenyapkan,
Dimasukkan dalam karung lalu dilenyapkan
Hingga tanpa nyata hilang bersama cerita
Kami yang dilenyapkan,
Teriakan kami diredam gas airmata
Langkah kami diberhentikan dengan blokade kawat tajam
Dan nafas kami dihilangkan dengan laras panjang
Kami yang dilenyapkan
Dihakimi tanpa diadili, diketuk palu tanpa ruang sidang
Di negeri kami yang dicintai
Di negeri kami yang kebenaran adalah kefatalan
Kenapa? sebegitukah hebat dan berbahayanya kami?
Hingga suatu keharusan untuk kami dilenyapkan.
Kawan, ketahuilah KAMI DILENYAPKAN BANGSA SENDIRI.
dedikasi untuk mereka aktivis HAM, Korban Mei 98'
Kami Dilenyapkan
Kamis, 12 Juni 2014
Diposting oleh
Menanti november
di
02.32
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Gelisah malam hari
Kamis, 29 Mei 2014
rasanya begitu berdebar, dia yang kembali mewarisi sayang
ini.
sudah terlalu lama terdiam membatu dan tak terucap satu
katapun.
hanya sebuah lagu yang membawa emosi pasti penuh kenangan
ada apa dengan ku malam ini.
tak sabar ingin bercinta dengan bayangan yang tak mungkin ku
sentuh
akhirnya kelarutan menuju pagi pun datang, siring ketidak
adilan kepada mata.
tuhan aku berdosa lagi malam ini.
Diposting oleh
Menanti november
di
04.23
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Untuk Kakak
seberapa besar rasa sabarmu kakak, ku tau ini berat dan kaupikul itu sendiri.
maka menangislah dengan angkat kedua tanganmu ke pada-Nya,
dan hari-harimu akan berubah setelah itu.
sinar dengan hangatnya menyerbu tubuhmu.
mereka hanyalah angin manakala dirimu tersenyum akan berlalu sudah.
hati tidaklah menyerupai wajah, kakak. karena dia memang apa adanya.
ingatlah doamu, ingatlah mimpimu, ingatlah harapanmu.
pejamkan matamu dan lukiskanlah itu dalam bayang kegelapan
lakukanlah sekarang agar kamu tenang. aku bangga padamu kakak
dari adik laki-laki mu
maka menangislah dengan angkat kedua tanganmu ke pada-Nya,
dan hari-harimu akan berubah setelah itu.
sinar dengan hangatnya menyerbu tubuhmu.
mereka hanyalah angin manakala dirimu tersenyum akan berlalu sudah.
hati tidaklah menyerupai wajah, kakak. karena dia memang apa adanya.
ingatlah doamu, ingatlah mimpimu, ingatlah harapanmu.
pejamkan matamu dan lukiskanlah itu dalam bayang kegelapan
lakukanlah sekarang agar kamu tenang. aku bangga padamu kakak
dari adik laki-laki mu
Diposting oleh
Menanti november
di
04.12
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Diam
Hening senyap tak bergerak, hanya diam!
tiada kata terus membisu, bahkan yang mudahpun tak terucap, hanya diam!
kemana nyanyian itu hilang,senyumampun ikut pergi, hanya diam!
kesalahan tak tertegur,kebenaran tak terungkap, hanya diam!
aku diam kamu diam,kita semua terdiam dalam kurungan.
penguasa kenapa engkau diam melihat kami rakyatmu terdiam?!!
tiada kata terus membisu, bahkan yang mudahpun tak terucap, hanya diam!
kemana nyanyian itu hilang,senyumampun ikut pergi, hanya diam!
kesalahan tak tertegur,kebenaran tak terungkap, hanya diam!
aku diam kamu diam,kita semua terdiam dalam kurungan.
penguasa kenapa engkau diam melihat kami rakyatmu terdiam?!!
Diposting oleh
Menanti november
di
04.10
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
utusan dari lor 2
Jumat, 25 Oktober 2013
menyambung dari cerita sebelumnya, 3 utusan dari lor
empat tahun kini sudah berlalu sahabat sejak kita terakhir kali mengucapkan mimpi-mimpi kita di depan meja dengan lampu yang gemerlap, banyak cerita yang sudah kita lalui di dalamnya tentang ceritaku, juga mungkin cerita kalian.dalam perjalananya aku tau begitu tidak mudah untuk mencapai hari ini, akupun merasakanya.
tahukah sahabat, disini aku bahagia bertemu keluarga baruku, karena mereka selalu ada untukku juga sesosok wanita yang telah berjuang mengisi hari-hariku dengan kasihnya(rani miranti), sesekali aku merindukan mu wahai calon sarjana ekonomi deni haris, begitu juga kamu wahai perawat yang kini melangkahkan kakinya menuju negeri matahari,rano pangrango. senyumku tak tertahan karena aku bangga dan bahagia mendengar kabarmu. sahabat, selangkah lagi dirimu sidang dan segera menyandang sarjana ekonomi.negeri sakura pun telah kamu genggam itulah mimpi-mimpi kalian. aku akan menyusul kalian sahabat, kesibukaknu kini tidak lebih hanya mengetik pada monitor ini, menemaniku menulis hingga langit berubah lembayung.
bukankah kita punya adik? gadis mungil dengan senyumnya yang manis Ary adiani, kemana dia..? bagaimana kabarnya? .telah lama dia tidak ada kabar, tapi kulihat dia juga bahagia.
waktu pastilah terus berputar tiada lelah, hari tentunya berganti tiada bosan. kita pun pastilah akan semakin menjauh pergi bersama kesibukan kita. kita dipertemukan saat berseragam putih abu-abu, dan di jauhkan oleh mimpi dan cita-cita kita, ingat hanya dijauhkan tidak untuk dipisahkan, di dalam hati telah terukir cerita dan kenangan yang kita simpan untuk di kenang dan di ceritakan kembali di hari tua.kita akan terbahak lagi melupakan usia kita yang telah senja. kita tidak tau entah kapan,dan dimana.. semoga nanti kita di pertemukan lagi di depan meja dengan lampu yang gemerlap, seperti awal kita bermimpi. sahabat
untuk sahabatku Deni,Rano dan adik kecil kita Ary
empat tahun kini sudah berlalu sahabat sejak kita terakhir kali mengucapkan mimpi-mimpi kita di depan meja dengan lampu yang gemerlap, banyak cerita yang sudah kita lalui di dalamnya tentang ceritaku, juga mungkin cerita kalian.dalam perjalananya aku tau begitu tidak mudah untuk mencapai hari ini, akupun merasakanya.
tahukah sahabat, disini aku bahagia bertemu keluarga baruku, karena mereka selalu ada untukku juga sesosok wanita yang telah berjuang mengisi hari-hariku dengan kasihnya(rani miranti), sesekali aku merindukan mu wahai calon sarjana ekonomi deni haris, begitu juga kamu wahai perawat yang kini melangkahkan kakinya menuju negeri matahari,rano pangrango. senyumku tak tertahan karena aku bangga dan bahagia mendengar kabarmu. sahabat, selangkah lagi dirimu sidang dan segera menyandang sarjana ekonomi.negeri sakura pun telah kamu genggam itulah mimpi-mimpi kalian. aku akan menyusul kalian sahabat, kesibukaknu kini tidak lebih hanya mengetik pada monitor ini, menemaniku menulis hingga langit berubah lembayung.
bukankah kita punya adik? gadis mungil dengan senyumnya yang manis Ary adiani, kemana dia..? bagaimana kabarnya? .telah lama dia tidak ada kabar, tapi kulihat dia juga bahagia.
waktu pastilah terus berputar tiada lelah, hari tentunya berganti tiada bosan. kita pun pastilah akan semakin menjauh pergi bersama kesibukan kita. kita dipertemukan saat berseragam putih abu-abu, dan di jauhkan oleh mimpi dan cita-cita kita, ingat hanya dijauhkan tidak untuk dipisahkan, di dalam hati telah terukir cerita dan kenangan yang kita simpan untuk di kenang dan di ceritakan kembali di hari tua.kita akan terbahak lagi melupakan usia kita yang telah senja. kita tidak tau entah kapan,dan dimana.. semoga nanti kita di pertemukan lagi di depan meja dengan lampu yang gemerlap, seperti awal kita bermimpi. sahabat
untuk sahabatku Deni,Rano dan adik kecil kita Ary
Diposting oleh
Menanti november
di
14.01
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
sajak tengah malam
Kamis, 13 Juni 2013
seakan semua yang terasa kini menguliti kenangan
pada mawar telah menguncup dibawah rembulan
senyum dan airmata bersetubuh laksana perwira mengawal ditepi cerita berakhir noda
menjadi malam mencekam penuh gelisah
kemarahan menyerbu garis hati yang terinjak kedustaan.
kesalahanpun kian tak termaafkan dari bibir bibir basah tersentuh kesucian hujan
siang kapan datang melingkupi butiran waktu yan menari kemudian.
melupakannya diatas kebencian
selamanya akan terdiam seperti kemarin diawal pertemuan.
kusudahi disini saja, karena sudah terulang kembali.
pada mawar telah menguncup dibawah rembulan
senyum dan airmata bersetubuh laksana perwira mengawal ditepi cerita berakhir noda
menjadi malam mencekam penuh gelisah
kemarahan menyerbu garis hati yang terinjak kedustaan.
kesalahanpun kian tak termaafkan dari bibir bibir basah tersentuh kesucian hujan
siang kapan datang melingkupi butiran waktu yan menari kemudian.
melupakannya diatas kebencian
selamanya akan terdiam seperti kemarin diawal pertemuan.
kusudahi disini saja, karena sudah terulang kembali.
Diposting oleh
Menanti november
di
23.49
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Hawa Berseni
Selasa, 26 Maret 2013
dia hawa..
Suara- suara telah menyatu dan di nadakan menjadi sebuah
melodi
Tubuh juga telah menyatu dengan keindahan
melukiskanya hingga menjadi arti biar berwana atau hanya
hitam dan putih
seketsa kini adalah nyawa untuk jari-jari nan lentik
memegang pensil menggerakanya untuk tetap menari
jadilah sebuah seni yang mengagumkan.
dia wanita...
dia wanita...
Tubuhnya kurus tetapi tidak sekurus pikiranya,
yang selalu terbawa
oleh sebuah mimpi besarnya.
Bunyi gitar, lukisan pensil,tinta di kulit,desain baju atau baju
bergambar gusdur ,
Itulah kamu menjauh dari sisi ketidaknyamanan
Dengan tulisan ini ku ucapkan “Selamat malam wahai pengagum
keagungan seni
Diposting oleh
Menanti november
di
10.15
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Mencari
Mencari
Ini adalah kata kotor nan menjijikan
Siapa yang seharusnya aku panggil anjing?
Kamu atau aku
Ini adalah belati berkarat sesewaktu bisa menyayat.
Siapa yang seharusnya jadi mayat?.
Kamu atau aku
Suara sunyi terdengung penuh isyarat
Siapa yang seharusnya bernyanyi ?
Setan atau malaikat
Asapnya putih dan berakhir hitam
Siapa yang harusnya terbakar?
Kamu atau aku
Ini kesalahan yang berujung penyesalan
Siapa yang bersalah?.
Kamu atau dia, mungkinkah aku
Waktu yang mengenang dan waktu yang menjawab.
Diposting oleh
Menanti november
di
10.11
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
senandung rindu
Gerimis yang membasahi jalanan sekarang tak ada debu
hanya gelap dan alunan rasa rindu yang menggebu
asap-asap kecil menari kearahku yang lagi merindu
tentang wanita bertinta dengan semua yang dimilikinya.
Satu detik
Satu menit
Satu jam
Satu hari
Satu minggu
Satu tahun ataupun satu abad ku merindu
Tawanya selalu menggebu ku merindu
Menunggu getaran pesan singkat ku merindu
Berharap bersuara nada dering dari ponsel ku merindu
Kamu nan ayu yang kini lagi ingin sendiri.
Diposting oleh
Menanti november
di
10.09
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Aku Menjadi abu
Minggu, 10 Maret 2013
Maaf kini aku sudah tidak yakin akan mu, bersamamu dan
menjagamu
Bukan apa-apa cinta.. ini adalah tafsir perasaan
Aku yang di kurung kenikmatan, tapi rasa syukurku telah
dipudarkan .
Tak apakah jika aku menghilang dari tatapan mu.
Jangn penah bertanya aku kenapa, atau aku kemana.
Jasad dan jiwa mungkin akan terpisah. Jauh.. jauh..
Jasad ku tentu menyusut tapi tidak dengan jiwaku yang selalu
setia di hatimu.
Aku yang ketakutan..
Aku yang hilang percaya diri.
Relakah dirimu tersipu di pelukan tubuh penuh goresan dosa
ini.
Teringat Sesekali mengelinang air suci , kamu teteskan
untukku
Aku bilang itu tak pantas cinta.. bukan satu tetapi dua atau
tiga.
Ketiganya lebih baik dari aku, ketiganya penuh harapan yang
nyata..
pergi sajalah aku, dengan ribuan mata yang ku punya..
teruslah Tenang pastikan setiap saat aku bisa melihatmu
Kebahagiaan telah menunggumu disebrang sana, bukan di sini
aku berdiri.
Ada istana..
Ada permadani..
Ada mahkota yang begitu indah saat terpasang di kepalamu
cinta,
Dari sini, ku ingin melihat dirimu disana,
Dengan gaun putih yang kamu kenakan.. berjalan anggun
melewati karpet merah
Menuju kereta kuda yang gagah. Di iringi taburan bunga yang
harumnya sampai disini
Aku akan baik-baik saja, sebaik keadaanmu disana
Tetap menjadi rakyat yang cinta kesederhanaan.
Tak akan kamu dustai karena disini aku sendiri.
Ketakutan yang selalu menemaniku.
Hingga aku menjadi abu.
Diposting oleh
Menanti november
di
11.42
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Maksudnya Bangkai kapal
Sebuah bayangan hitam terlihat seperti gubuk, tapi bukan itu
maksudnya
Delimapun memerah dengan rekahannya yang menggoda, tapi tak
kunjung hati terayu
Lalu apa? Bukan gubuk atau delima, tapi bangkai kapal
maksudnya
Seperti aku yang kini terduduk lesu tapi bukan bunga yang
layu.
Meratapi angin yang kian malam menjadi badai,
Meratapi pasir yang kian kering menjadi besi.
Tidakkah semuanya benar, yang kecil akan tumbuh menjadi
besar.
Berkeriput bau tanah
dan mati ditimbun tanah.
Ini maksudnya hukum kita hidup dan menghirup udara, tidak
mau tau sejuk atau gersang.
Aku yang sedang meradang, tanpa uang yang ku pegang hanya
arang.
Ini arang bukan pedang.
Semoga aku benar-benar mengerti apa maksudnya.
Diposting oleh
Menanti november
di
11.40
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Dia bukan soeharto
Sepertinya selalumembawa payung
Hanya mirip dengan raja jawa
Selalu dating dan masuk tepat jam tujuh pagi
Hanya mirip dengan bapak cendana
Selalu pulang dan masuk tepat jam empat sore
Hanya mirip dengan bapak pembangunan
Dia muncul hanya diantara sarijadi dan ciroyom
Hidup telah menjadikannya situa pekerja keras.
Bukan jas merah tetapi kemeja merah yang dia pakai
Yang terlihat dua puluh tahun lebih muda dari umurnya.
Gagah, dingin dan kenal waktu
Topi hitam pun siap siaga menutupi rambutnya yang putih
Tapi sayang dia bukan soeharto.
Diposting oleh
Menanti november
di
09.40
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Lukisan Debu
Mungkin mereka kakak beradik, dibawah langit yang berkuasa
Tetapi enggan menyembunyikan teriknya matahari.
Sang adik menangis dan sang kakak mencoba memberikan pelukan
kecil agar semuanya kembali tenang
Meski tidak setenang air tak berarus atau saat pasir mulai
berbisik
Pastilah karena mereka
ada di antara debu dan gemuruh kendaraan.
Inikah potret atau lukisan manis bocah yang telah lama
meninggalkan permainan petak umpet.
Yang sejatinya begitu meriah dan mendamaikan suasana sore.
Demi tiga ribu rupiah di kedua tangannya,
Tangan-tangan yang seharusnya halus tak berluka.
Kini penuh goresan kecil dan kasar terkena kerikil jalanan.
Kalian tidak akan pernah tersenyum tetapi meringis.
Sekalipun menebarkan senyuman yang terlihat hanya kepalsuan.
Karena mata yang akan selalu berair.
Bahagialah dengan aspal hitam pekat dan debu-debu yang
terbawa angin.
Kupikir pulanglah....
ibumu menunggu kalian duduk dengan piring plastik tanpa isi.
Diposting oleh
Menanti november
di
09.33
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
cahaya kunang
Jumat, 01 Februari 2013
lorong di antara pintu kini gelap yang terlihat hanyalah hitam pekat.tidakkah kau lihat cahaya di ujung itu, walau sekecil kunang dan ekornya.
tapi aku melihat gemerlapnya bukan satu, bahkan ribuan cahaya.
selamatlah kita wahai cinta, dari kesendirian dan perbedaan andai kau seperti aku.
ini bukan beban tetapi perjuangan rasa.
itu bukan kekhawatiran tetapi kepercayaan.
semuanya bukan ketakutan tetapi langkah keberanian.
Diposting oleh
Menanti november
di
19.35
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Demi kau juga aku sayang
Sabtu, 12 Januari 2013
Demi kau juga aku sayang.
Kau nampak baik sedang aku buruk,.
demi kau juga aku sayang.
Lihatlah, tidakkah aku seperti dulu.
Tataplah, tidakkah aku telah terkubur sewindu nafsu bisu.
Menjauhlah… dari sisi gelap tanpa bayangan ini,
Mungkin nanti harumnya melati akan kuhirup dengan bisikkan
raja pecundang.
Melatilah yang memberikan kebahagiaan bukan aku sayang.
Kau akan di jaga perwira sejati, tapi bukan aku sayang.
Melindungimu selalu bahkan anginpun tertunduk takut.
Saat semua itu
terjadi biarkan aku menatap, merasakan, dan melangkah menjauh.
Demi kau juga aku sayang.
Kau selalu bertanya kenapa bisa seperti ini, demi kau juga aku sayang.
Ingin sekali lagi memelukmu, membawa kita beribu-ribu
melangkah kebelakang,
Saat semuanya baik-baik saja. Sejuk karena kita masi bisa
tersenyum bersama.
Kutulis ini, itu demi kau juga aku sayang.
Diposting oleh
Menanti november
di
10.50
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Mengenang Jelita
Jumat, 14 Desember 2012
Untuk wanita yang teraniaya oleh perasaan, tiga tahun
lamanya tidakkah kau muak untuk menahanya wahai
jelita?, binar-binar itu mungkinkah kesakitan ataukah kerinduan, lalu
menurutmu apakah semuanya begitu indah? Aku ingin kau menjawabnya wahai jelita.
Maafkan aku telah membiarkanmu menjadi kelabu, ruangan kecil
itu dengan harumya asap rokok mengubah kita seakan bermahkota, aku raja kamu
ratu dan adik kecilmu itu pangeran. Cerita itu terjadi hanya tujuh jam dan aku
pergi melihat dirimu tersipu pilu dengan airmata yang tak tertahan.
Aku tau kamu sadar kepergianku bukan untuk berperang ,
tetapi sengaja untuk menjauh darimu, ingin rasanya memelukmu sekali lagi. Wahai
jelita.. tiga tahun ini aku kubur rasa rinduku terhadapmu, ini bukan berlebihan
tetapi beginilah keadaanya. Mengapa begitu sulit untuk melanjutkan cerita kita
sampai berabad-abad lamanya. Andai semuanya berbeda, malam ini akan ku ucapkan”
semoga mimpi indah wahai jelita. Terimakasih telah membuat goresan kecil
kebahagiaan di hidupku. Terimakasih telah berjuang melawan rasa sakit,
terimaksih keseribu kalinya telah berusaha mengenal aku selama tiga tahun.
Diposting oleh
Menanti november
di
02.38
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Dua Mawar
Jejali aku buah
simalakama agar aku bisa berfikir, tentang hawa-hawa yang mengeluarkan airmata
juga tentang dua mawar yang layu.
Apakah kalian tahu Memerdekakan keputusan ini ternyata lebih
sulit daripada membuat tersenyum budak di padang pasir.
Apalah ini, tercampur seperti kopi dan abu rokok, Meminumnya
pun enggan. Hati yang kelaparan akan ketenangan, kesunyian sepi di belantara
pinus-pinus yang kokoh dan harum, mungkinkah ketidakjelasan adalah akar dari ranting rumit berserabut ini.
Ataukah ketidakpastian yang harus disalahkan?, sungguh semuanya salah, karena
kecerobohan adalah mafianya.
Hati yang salah atau
perasaan yang serakah, semuanya menggumpal.aku ingin terlahir kembali menjadi
aku yang baru atau bahkan jangan lahirkan saja aku, kiranya itu lebih baik.
Kau yang disana bawa
aku ke nirwanamu,tunjukkan sebuah keindahan yang abadi, suci dengan seribu
bidadari, aku sudah lelah menapaki dua minggu ini, tertatih! Hanya senyuman
palsu yang bisa aku pamerkan. Bahkan
kebangsatan telah memeluk tubuh seorang laki-laki yang telah memberi rasa sakit
untuk dua mawar yang di sayanginya.
Kalian terlalu suci untuk memaki, biar cacian dan makian itu
aku ucapkan untuk diriku sendiri. Sebuah
diri yang ditumbuhi pohon penyesalan.
Sebuah diri yang penuh rasa bersalah.
Sebuah diri yang bermahkotakan kebodohan
Dan Sebuah diri yang disapa kegelapan.
Diposting oleh
Menanti november
di
02.30
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Bandung mendung
kedatanganku
kali ini di tanah pasundan di sambut gemerlap keagungan tahun baru
islam.Semerbak wewangian menyatu dengan bau hujan yang suci, merekapun
berkumpul di lapangan gazibu.Terlihat seorang santri yang begitu alim dan
menyimpan suatu kebesaran atas segalanya, panji berwarna hijau tua dengan
nyaman dia pegang di tangan kanannya , sejalan kemudian aku lihat ratusan
santri dengan baju kokoh bawahan sarung tenun, kopiah songkok hitampun melekat di kepala bagai mahkota, sungguh cirikhas
muslimin negeri ini. Negeri antah berantah menurut orang tetapi sungguh
menakjubkan negeri yang satu ini, bukan apa-apa merekalah yang membuat aku
takjub, karena mereka para nahdiyyin.
Adapun mereka
berkumpul seakan waktu kembali berbalik beberapa tahun kebelakang saat aku
adalah aku. Saat keindahan musholla adalah pemandangan hari-hariku. Gemuruh
anak anak tak berdosa membaca al-quran. Panggung tabligh akbar, aku yang duduk
dengan teman seperjuangan dengan pakaian seragam yang merupakan jubah teristimewa saat itu.
Aku yakin muka
ini berseri begitupun para orang tua yang melihat anaknya di atas panggung
kesempurnaan ini. Tak terkecuali oarang tuaku, terutama ayah yang sempat
tersenyum padahal aku tau dia begitu dingin, itulah saat terindah.
Kenangan itupun
hanyut begitu saja dalam lamunanku tersapu dinginya angin berdesir, memang
bandung sehabis hujan malam itu. Ataupun malah tersapu oleh kelakuanku saat ini
yang penuh dengan kebodohan tanpa mengenal apa itu dosa. Kini aku yang berteman
dengan kemaksiatan kini aku yang terlanjur jatuh di dalam kegelapan.
Demi rasa
dingin ini aku ingin kembali hangat seperti dulu, demi air mata ini aku ingin
merubahnya menjadi senyuman. Demi kesalahan ini Tuhan mohon ampuni.
Diposting oleh
Menanti november
di
02.23
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Obong Blarak
Kamis, 04 Oktober 2012
Demi masa sulit yang tak kunjung reda, aku ingin berlari
mengelilingi pantai ini menemukan tempat sunyi, tempat ikan –ikan tersenyum
merasakan ketenanganya.
Rasaku yang tenggelam di dasar sana, terkubur bersama harta yang kini berkarat dan berlumut,
air layar dan pasir, bergurulah pada angin yang menggerakkan alam ini. Jika aku
adalah matahari yang membutakan mata pergilah dari hati ini, lalu mendekatlah
dengan sesuatu yang indah disana sebuah purnama benderang yang memanjakan mata.
Waktu, kapan engkau berhenti tepat di november ini, sebuah
anugrah yang aku yakin akan datang di dalamnya. Menjelma sebuah anak laki-laki
yang apa adanya, aku percaya kebahagiaan akan turun memelukku biarpun aku
sendiri. Aku ingin menutup mata disini di tempat yang penuh dengan ombak suci
dan berpalinglah wahai dewi cintaku karena aku tak akan kembali.
Aku akan menjadi sebuah awal, semuanya akan terlupakan meski
satu detik yang lalu, aku benci melihat kebelakang yang gelap dengan cerita
kebohongan dan permainan orang-orang yang mengerti segalanya.
Dipundak ini aku terganggu sebuah bongkahan batu besar
diatasnya, berat dan berkeringat, untuk melangkahpun tak kuasa, aku tidak
mengerti apa maksud semua ini.. inikah semua masalahku,, hujan yang penuh
keagungan cepatlah turun, kikis batu di pundaku
aku ingin semuanya berakhir.
Masa depan sambutlah aku, laki-laki yang apa adanya ini..
semoga kau senang menerimanya
Diposting oleh
Menanti november
di
12.28
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
sahabat itu..
Senin, 01 Oktober 2012
Aku adalah sahabat, kapan pun kamu pergi aku tetap menunggu mu disini!!,
teriakan salah satu pemuda yang kesal akan kepergian teman sejatinya, ia berdiri di tepian sungai senja menatap perahu kecil yang perlahan menjauh dan menghilang di makan ruang dan waktu.
kutipan cerita di atas menggambarkan apa arti sahabat, teringat sebuah kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq. seorang sahabat rosullulloh atau kah persahabatan antara cristian ” seekor singa” dan dua majikanya yang sekaligus sahabat, Anthony Bourke dan John Rendall. kisah indah akan selalu terekam dalam benak menjelma menjadi kenangan manis yang sulit terlupakan. siap merangkul, dan siap menanggung nasibnya. tidaklah seperti persahabatan adlof hitler dan bonito missoloni yang terkisahkan hanya sebatas kepentingan politik dan hanya pada saat kejayaan paham fasisme.” jadilah sebuah kisah persahabatan yang tidak pernah putus asa memikul seluruh isak tangis, jerit, dan ratapan.
teriakan salah satu pemuda yang kesal akan kepergian teman sejatinya, ia berdiri di tepian sungai senja menatap perahu kecil yang perlahan menjauh dan menghilang di makan ruang dan waktu.
kutipan cerita di atas menggambarkan apa arti sahabat, teringat sebuah kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq. seorang sahabat rosullulloh atau kah persahabatan antara cristian ” seekor singa” dan dua majikanya yang sekaligus sahabat, Anthony Bourke dan John Rendall. kisah indah akan selalu terekam dalam benak menjelma menjadi kenangan manis yang sulit terlupakan. siap merangkul, dan siap menanggung nasibnya. tidaklah seperti persahabatan adlof hitler dan bonito missoloni yang terkisahkan hanya sebatas kepentingan politik dan hanya pada saat kejayaan paham fasisme.” jadilah sebuah kisah persahabatan yang tidak pernah putus asa memikul seluruh isak tangis, jerit, dan ratapan.
Diposting oleh
Menanti november
di
00.42
0
komentar
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Langganan:
Postingan (Atom)







