Dua Mawar

Jumat, 14 Desember 2012


Jejali  aku buah simalakama agar aku bisa berfikir, tentang hawa-hawa yang mengeluarkan airmata juga tentang dua mawar yang layu.
Apakah kalian tahu Memerdekakan keputusan ini ternyata lebih sulit daripada membuat tersenyum budak di padang pasir.
Apalah ini, tercampur seperti kopi dan abu rokok, Meminumnya pun enggan. Hati yang kelaparan akan ketenangan, kesunyian sepi di belantara pinus-pinus yang kokoh dan harum, mungkinkah ketidakjelasan  adalah akar dari ranting rumit berserabut ini. Ataukah ketidakpastian yang harus disalahkan?, sungguh semuanya salah, karena kecerobohan adalah mafianya.

 Hati yang salah atau perasaan yang serakah, semuanya menggumpal.aku ingin terlahir kembali menjadi aku yang baru atau bahkan jangan lahirkan saja aku, kiranya itu lebih baik.
 Kau yang disana bawa aku ke nirwanamu,tunjukkan sebuah keindahan yang abadi, suci dengan seribu bidadari, aku sudah lelah menapaki dua minggu ini, tertatih! Hanya senyuman palsu  yang bisa aku pamerkan. Bahkan kebangsatan telah memeluk tubuh seorang laki-laki yang telah memberi rasa sakit untuk dua mawar yang di sayanginya.

Kalian terlalu suci untuk memaki, biar cacian dan makian itu aku ucapkan untuk diriku sendiri.  Sebuah diri yang ditumbuhi pohon penyesalan.
Sebuah diri yang penuh rasa bersalah.
Sebuah diri yang bermahkotakan kebodohan
Dan Sebuah diri yang disapa kegelapan.


0 komentar:

Posting Komentar